“ ASAS TAMANSISWA 1922 “
11.24 |
“ ASAS TAMANSISWA 1922 “
Azas 1922 adalah asas perjuangan yang di dalamnya terkandung dasar-dasar yang menjelasakan sifat-sifat Tamansiswa. Pertama Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertib persatuan dalam kehidupan umum. Kalimat ini terkandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap individu untuk mengatur dirinya sendiri. Di jelasakan pula bahwa arti kata Kebebasan bukan berarti kebebasan yang dengan leluasa menjalankan kepentingan-kepentingan suatu individu dengan mengesampingkan norma dan adat istiadat yang ada, namun kebebasan yang terbatas dan harus mengingat tertib-damainya hidup bersama. Dalam ayat ke 2 dalam pasal ini mengemukakan bahwa tujuan dari hidup mereka tadi, yaitu hidup tertib dan damai. Dalam pasal ini juga terdapat dasar kodrat alam, yang digunakan untuk mengganti sistem pendidikan cara lama yang menggunakan perintah, paksaan dan hukuman. Kemajuan yang sejati hanya dapat diperoleh dengan perkembangan kodrati, yang dikenal dengan istilah “evolusi”. Dasar kodrat alam inilah yang kemudian mewujudkan “among sistem” kita, yang mana dalam sistem ini guru-guru kita lah yang menjadi pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan semboyan “tutwuri handayani”, yakni tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik agar dapat mandiri. Dengan demikian maka si pamong seharusnya wajib menyingkirkan segala macam hal yang menjadi penghalang anak-didik dalam menuntut ilmu dan berkaya. Dalam pasal ini juga guru dituntut untuk dapat berperan aktif dalam membimbing anak didik dalam setiap gerak geriknya dan mengawasi kegiatan mereka agar anak didik dapat menghindari mara bahaya yang mengancam keselamatan mereka. Kedua Pendidikan yang diberikan hendaknya dapat menjadikan manusia yang merdeka dalam sistem ini, maka pelajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinya, merdeka fikiranya dan merdeka tenaganya dengan dasar kemerdekaan yang menegaskan bahwa kemerdekaan tadi hendaknya diterapkan dalam cara berfikir anak didik agar mandiri dan tidak mengikuti buah pemikiran orang lain. Ketiga Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia. Kalimat ini bukan meramalkan segala jaman yang bakal datang, melaikan menunjukan bahwa pada setiap saat, setiap waktu kapan saja, manusia akan selalu diharapkan pada pilihan – pilihan tertentu. Juga bangsa kita akan selalu di hadapkan kepada berbagai alternative yang harus dipilih. Hendaknya berhati – hati dan telitilah dalam memilih. Dengan berpegang pada kepribadian bangsa sendiri, kita mencari pola-pola kehidupan baru yang sesuai dengan perkembangan alam dan jaman tetapi tetap memiliki pegangan yang kuat, ialah kebudayaan bangsa. Dengan demikian maka pola kehidupan yang baru itu akan tetap selaras dengan kepribadian kita, yang memberikan hidup damai bagi seluruh bangsa dan juga menemukan keselarasan dengan nilai budaya asing yang dianut oleh bangsa-bangsa lain. Keempat Pendidikan diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali Dalam asas ini terdapat dasar Kerakyatan atau demokrasi yang dianut oleh Tamansiswa. Disini yang lebih diutamakan adalah bagaimana memberikan pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Jika hanya ada sebagian kecil saja rakyat yang terdidik, maka kaum terpelajar yang sangat terbatas itu kurang faedahnya bagi pembinaan bangsa (nation-building). Selain itu terdapat juga asas pemerataan agar dapat memperluas akses pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Ki Hajar Dewantara memberi himbauan bahwa memberikan pendidikan dan memotivasi, meningkatkan kreatifitas dan kemandirian dalam masyarakat hendaknya lebih diutamakan.
Langganan:
Komentar (Atom)








![download[4]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6TCjBTGoPDV8C7jONJDQdy17OQ4WwAvc0uHHYAjyd1hIHuchYGTbIv2uzcsErMy_F0wtFY_mV-2XRijn8WpCGA4pBKv1coLfHhvrRqQbuUeQSTQkukl7D8WFQ7lEiw0krwM5CQKblBKVh/s1600/download+oke+2.jpg)